SDN 011 NUNUKAN

BU LAILA ANGGRAINI, S. Pd. SD KEPALA SDN 011 NUNUKAN.

SDN 011 NUNUKAN

OKTAVIANUS ( Staff Tata Usaha Sekolah )

SDN 011 NUNUKAN

Ekstrakurikuler Siswa

SDN 011 NUNUKAN

Keluarga Besar SDN 011 Nunukan

SDN 011 NUNUKAN

TUMINI, S.Pd.SD Guru Kelas V A

SDN 011 NUNUKAN

Kegiatan Persami Gudep SDN 011 Nunukan.

SDN 011 NUNUKAN

Pelatihan Kit IPA

SDN 011 NUNUKAN

Pra Jambori 100 Th Pengakap Negeri Sabah 2012.

SDN 011 NUNUKAN

Sriady Faisal, S. Pd. Wali Kellas VI A

SDN 011 NUNUKAN

Staff dan Dewan Guru SDN 011 Nunukan

Rabu, 30 Mei 2012

Manfaat Sarang Burung Walet




Memiliki harga yang sangat mahal karena burung walet lebih menyukai membuat sarang di gunung – gunung yang tinggi (bahkan di puncak dan ujung tebing). Berdasarkan penelitian orang cina, sarang burung walet memiliki khasiat yang luar biasa untuk kesehatan manusia yang bisa dikonsumsi wanita maupun pria usia muda maupun usia tua. Di restoran-restoran cina kita dapat menemukan sup sarang burung walet karena pada umumnya sarang burung walet disajikan dalam bentuk sup.
Sarang burung walet yang berguna adalah air liurnya sehingga sarang burung walet perlu untuk dibersihkan sebelum dikonsumsi. Terdapat dua jenis sarang burung bila dilihat dari warnanya. Ada sarang burung putih yang seluruhnya terbuat dari air liur burung walet, dan sarang burung hitam, yang terbuat dari campuran air liur dan bulu – bulu burung. Sarang burung walet yang berwarna putih lebih mahal harganya.
Sarang burung walet memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh kita diantaranya, yaitu:
1. Menjaga tubuh tetap segar
2. Menjaga daya tahan tubuh sebagai sumber kekuatan
3. Menjaga awet muda
4. Menjaga kehalusan kulit (tetap cantik)
5. Sebagai obat kuat
6. memelihara kecantikan
7. Menghambar kanker
8. Meningkatkan metabolisme tubuh
9. Meningkatkan vitalitas
10. Memperlambat proses penuaan

Senin, 07 Mei 2012

UASBN BAHASA INDONESIA, 7 MEI 2012





Kamis, 03 Mei 2012

ARTIKEL PENDIDIKAN

Benarkah Ujian Nasional Dapat Memengaruhi Peningkatan Mutu Pendidikan dan Etos Kerja?

(Sebuah Masukan untuk Pemerintah)

SAYA terharu dan ikut merasakan keprihatinan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla terhadap rendahnya etos kerja rakyat Indonesia. Keprihatinan ini jelas dirasakan oleh para pendiri republik ini. Karena itu, pendiri republik menetapkan bahwa salah satu fungsi penyelenggaraan pemerintahan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk itu pula para pendiri republik menetapkan dalam UUD 1945 perlu diselenggarakannya satu sistem pengajaran nasional (sistem persekolahan) dan memajukan kebudayaan nasional. Para pendiri republik berangkat dari pengalamannya sendiri-sendiri mengikuti pendidikan sekolah yang bermutu dan perbandingan perkembangan negara-negara yang kini masuk dalam jajaran negara maju, adalah negara yang menjadikan sekolah sebagai wahana untuk membangun suatu negara bangsa melalui proses transformasi budaya. Pertanyaannya adalah seberapa jauh ujian nasional dapat menjadi penentu peningkatan mutu pendidikan dan etos kerja rakyat Indonesia?

Sebagai pelajar ilmu pendidikan yang telah berkesempatan mempelajari pendidikan sebagai ilmu pengetahuan sejak usia muda, yang berkesempatan terlibat dalam proses pembaruan pendidikan pada tahun 1963-1967 dan 1971-1981, yang berkesempatan mempelajari pelaksanaan pendidikan di negara maju (2 tahun di Amerika Serikat, 4 tahun di Jerman, 4 bulan di Jepang, dan 3 bulan di Singapura) dan secara terus-menerus menjadi pengajar ilmu pendidikan, melalui tulisan ini ingin memberikan tinjauan analitik secara ringkas tentang faktor yang memengaruhi peningkatan mutu pendidikan dan kedudukan evaluasi dan ujian nasional terhadap peningkatan mutu pendidikan.

SUATU pendidikan dipandang bermutu-diukur dari kedudukannya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional-adalah pendidikan yang berhasil membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, bermoral dan berkepribadian. Dalam bahasa UNESCO (1996) mampu moulding the character and mind of young generation.

Untuk itu perlu dirancang suatu sistem pendidikan yang mampu menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, merangsang dan menantang peserta didik untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik berkembang secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya adalah salah satu prinsip pendidikan demokratis. Sebagai lawan dari penyelenggaraan pendidikan yang menjadikan pendidikan hanya sebagai sarana untuk memilih dan memilah.

Atas dasar ini pula, negara maju yang demokratis, seperti Amerika Serikat dan Jerman, tidak mengenal ujian nasional untuk memilih dan memilah. Kebijaksanaan yang diutamakan adalah membantu setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal, yaitu dengan: (1) menyediakan guru yang profesional, yang seluruh waktunya dicurahkan untuk menjadi pendidik; (2) menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan penuh kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang bermain yang memadai dan ruang kerja guru; (3) menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik dapat secara terus-menerus belajar melalui membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan, (termasuk novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan yang memungkinkan peserta didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar; (4) evaluasi yang terus-menerus, komprehensif dan obyektif.

Yang terakhir inilah, yang dalam pandangan saya berdasarkan penelitian, dapat memengaruhi dapat tidaknya kita menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan dan nilai, etos kerja, disiplin, jujur dan cerdas, serta bermoral. Melalui model pembelajaran yang seperti inilah, yaitu peserta didik setiap saat dinilai tingkah lakunya, kesungguhan belajarnya, hasil belajarnya, kemampuan intelektual, partisipasinya dalam belajar yang-menurut pengamatan saya-menjadikan sekolah di Jerman dan Amerika Serikat mampu menghasilkan rakyat yang beretos kerja tinggi, peduli mutu, dan gemar belajar.

Mereka setiap hari belajar selalu mendapat tugas dari semua mata pelajaran yang proses maupun hasilnya dinilai dan nilai-nilai ini memengaruhi nilai akhir semester dan seterusnya. Melalui sekolah-sekolah tersebut diterapkan prinsip belajar tuntas (learning for mastery) sebelum mencapai tingkat penguasaan tertentu belum boleh mengikuti pelajaran berikutnya dan belajar berkelanjutan (continuous progress).

Setelah enam tahun dicobakan, model tersebut ternyata lebih efektif dari sistem yang di sekolah biasa. Sayangnya, karena pertimbangan mahalnya pelaksanaan model tersebut, oleh Menteri Nugroho Notosusanto program tersebut tidak dilanjutkan. Pada periode itu, yaitu periode Menteri Mashuri, Menteri Soemantri Brojonegoro, Menteri Sjarif Thayeb, dan Menteri Daoed Joesoef, dari tahun 1968 sampai dengan periode Menteri Nugroho Notosusanto, Indonesia tidak menerapkan ujian nasional. Semula Menteri Daoed Joesoef akan menerapkan ujian nasional, pada saat itu sebagai Staf Ahli Menteri-yang baru menyelesaikan penelitian untuk disertasi doktor pada tahun 1981, saya menulis memo kepada Menteri Daoed Joesoef, yang intinya agar beliau tidak menerapkan ujian nasional.

Dari penelitian yang dilakukan dan dilakukan di Amerika Serikat (Benjamin Bloom) ditemukan bahwa tingkah laku belajar peserta didik dipengaruhi oleh perkiraan peserta didik tentang apa yang akan dinilai (diujikan). Karena itu, ujian nasional yang umumnya menanyakan dimensi kognitif dari mata pelajaran akan menjadikan peserta didik selama belajar tidak merasa perlunya melakukan eksperimen di laboratorium, tidak perlu membaca novel, tidak perlu latihan mengarang, tidak perlu melakukan kegiatan terus-menerus secara berdisiplin dan berbagai kegiatan belajar yang dalam dirinya diarahkan untuk menanamkan nilai dan mengembangkan sikap. Sebab, kesemuanya itu tidak akan diujikan/dinilai. Dampak lebih lanjut adalah munculnya lembaga bimbingan tes yang mengakibatkan tidak lagi menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan.

Saya tidak menolak keampuhan pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris sebagai indikator kecerdasan peserta didik. Akan tetapi, dengan pelaksanaan pendidikan yang demikian, SMA sebagai sekolahnya semua lulusan SMP. Bandingkan dengan Singapura, yang untuk masuk SMA (Junior College) peserta didik sudah disaring sejak kelas 5 SD, demikian juga dengan Jerman yang untuk memasuki SMA Jerman (Gymnasium), anak didik disaring sejak masuk kelas V, dan di Amerika Serikat yang sejak kelas 9 telah diadakan diversifikasi kurikulum, yaitu kurikulum untuk calon mahasiswa (Preparatory College) yang berbeda dari kurikulum untuk mereka yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi calon mahasiswa.

Mengapa? Karena SMA di Indonesia peserta didiknya meliputi juga mereka yang secara akademik tidak memenuhi syarat untuk menjadi calon mahasiswa dan dengan fasilitas tenaga guru yang tidak merata, baik jumlah maupun mutunya. Di Amerika Serikat dan Jerman, untuk menjadi mahasiswa-apa pun jurusannya-harus berhasil dalam pelajaran Kalkulus, Trigonometri, Fisika, dan Bahasa Asing. Dr Mochtar Buchori menyatakan bahwa kurikulum SMA kita hanya dapat diikuti oleh 30 persen peserta didik. Karena itu, dapat diramalkan bahwa mereka yang benar-benar dapat lulus ujian nasional, yang seharusnya minimum 6 (sesuai dengan pandangan Wapres) tidak akan lebih dari 40 persen.

Dan, dapat diramalkan pula bahwa bila demikian hasilnya akan berakibat hasil ujian nasional kembali hanya akan menjadi salah satu penentu kelulusan. Dan ini yang terjadi pada tahun 2004, yang karena rendahnya jumlah yang lulus, lalu dilakukan rumus konversi. Apalagi kalau dikembalikan ke daerah, akan kembali bahwa semua dapat diatur dan tidak ada aturan yang pasti. Dan ini, dalam pandangan saya, adalah akar dari budaya koruptif.

ATAS dasar serangkaian ulasan terdahulu, seyogianya ujian nasional yang sudah direncanakan tidak digunakan untuk menentukan kelulusan, apalagi untuk SMP. Karena, SMP adalah bagian dari wajib belajar, yang ketentuannya adalah lamanya pendidikan yang harus ditempuh, yaitu sembilan tahun. Rencana ujian nasional itu hanya dapat digunakan untuk: (1) memperoleh peta mutu hasil belajar pada tiga mata pelajaran yang diujikan sebagai dasar untuk melakukan serangkaian perbaikan dan pembaruan, (2) menentukan lulusan SMA yang dapat melanjutkan pendidikan ke universitas, untuk itu minimum nilai kelulusan adalah 6 (dalam skala 1-10), dan (3) menentukan lulusan SMP yang dapat melanjutkan pendidikan ke SMA.

Adapun kelulusan peserta didik ditetapkan oleh sekolah berdasarkan prestasi mereka yang diamati secara terus-menerus oleh para pendidik.

Secara ringkas kiranya dapat disimpulkan bahwa ujian nasional, seperti pendapat Prof Dr Winarno Surakhmad, tidak dapat menjadi penentu peningkatan mutu pendidikan, banyak elemen dari sistem persekolahan yang perlu ditata sebagai minimum quality assurance bagi meningkatnya mutu pendidikan. Dan, bila ketentuan UUD 1945 Pasal 31 dan UU Sistem Pendidikan Nasional secara konsekuen dilaksanakan, mutu pendidikan akan dapat mulai ditingkatkan.

Profil Sekolah




I.   SEKOLAH
No.
URAIAN
KETERANGAN
1
Nama Sekolah
SDN 011 NUNUKAN
2
NSS
101160804011
3
NSPN
30402728
4
Status
Negeri
5
Tahun Berdiri
10 Juli 1986
6
Alamat
Jl. Pembangunan RT.10
7
Desa
Nunukan Barat
8
Kecamatan
Nunukan
9
Kabupaten/Kota
Nunukan
10
Propinsi
Kalimantan Timur
11
Nilai Akreditasi
C
12
Jumlah Rombel/Kelas
12 Kelas
13
Luas tanah seluruhnya
2800 m2
14
Luas bangunan
939,6 m2
15
Luas kebun/halaman
1110 m2
16
Status tanah
Milik Pemerintah

II. KEPALA SEKOLAH
No.
URAIAN
KETERANGAN
1
Nama
Laila Anggraini, S.Pd.SD
2
NIP
19631009 198407 2 002
3
Jenis Kelamin
Perempuan
4
Tempat, Tgl. Lahir
Tarakan, 09 Oktober 1963
5
Pangkat / Gol       
Pembina / IV.a
6
Pendidikan Terakhir
S1 PGSD 2008
        7.   Alamat
   III.  VISI DAN MISI SEKOLAH
1)   VISI
     “Terwujudnya siswa yang berakhlak mulia, berprestasi, berwawasan global yang dilandasi nilai-nilai budaya luhur sesuai dengan nilai agama.

2)   MISI SEKOLAH
a)   Mewujudkan pendidikan yang menghasilkan lulusan cerdas, terampil, beriman, bertaqwa, dan memiliki keunggulan kompetitif
b)      Mengoptimalkan proses pembelajaran dan bimbingan.
c)   Mewujudkan sistem pendidikan yang transparan, akuntabel, partisipatif, dan efektif.
d)    Mewujudkan pengembangan dalam bidang akademik dan non akademik
e)      Mewujudkan pengembangan IPTEK dan IMTAK
 
3)   TUJUAN  SDN 011 Nunukan:
a)   Dapat mengamalkan ajaran agama hasil pembelajaran dan kegiatan pembiasaan
b)    Meraih prestasi akademik dan non akademik minimal tingkat Kabupaten Nunukan
c)    Menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.
d)  Menjadi pelopor dan penggerak di lingkungan masyarakat sekitar.
e)      Menjadi sekolah yang diminati masyarakat sekitar

        IV.       SEJARAH PEMIMPIN
1.   1986 - 1990  ( JAHRAN )
2.   1991 - 1993  ( JAMALUDDIN )
3.   1993 - 2007  ( RUTH  SOBA  PALIMBAN )
4.   2007 - 2012  ( HJ. NORMAH   M., A.Ma )
5.   2012 -            ( LAILA ANGGRAINI, S.Pd.SD )




PUISI KU


SAJAK-SAJAKKU
(Sriady Faisal)
Nunukan, Mei 2012
JARAK
berpotong-potong alamat yang kau tinggalkan
hanya menyodorkan perih di dalam mimpiku
e-mail yang gemetar di telapak tangan
nomor telepon bertangkap pasi di muka
juga pos rumahku yang tersandar lelah
tak sejari pun mendekatkan aku padamu
kakimu di Amerika
tapi langkahmu ke Belanda
saat rambutmu di Australia
tapi hitam panjangnya terurai di Afrika
engkau menangis di Watansoppeng
tetapi air matamu jatuh di Pyongyang Cina
barangkali aku yang tak bisa membaca tanda
memahami simbol selalu dengan hati kanan
mungkin juga aku yang terlalu loba
mengharapkan bayang-bayang
yang jauh lebih tinggi dari tubuhku sendiri
tak mustahil engkau yang selalu pelupa
memaknai kata dengan cuma
mungkin pula terlalu percaya dikau
kepada setiap tiba akan merasakan sampai
mengampungkan kota dalam rahasia capai
wahai engkau yang terang tak membagi cahaya
wahai engkau yang pelangi tak menyisakan warna
wahai engkau yang elok tak melemparkan paras
wahai engkau yang diam tak memendam sunyi
lihat aku yang terpampang
mengirimkan diriku
yang babak belur dilindas jarak dan kerinduan

UAS KELAS VI TP 2011/2012







Exchange Link